Tak pernah ada di pikiran Nakula, bahwa dia akan mengalami mimpi buruk selama seminggu berturut-turut. Dan meski dia telah mengubah pola makan, tidur serta mengurangi stress, mimpi itu masih selalu hadir. Mimpi yang cukup mengganggu, karena Nakula terus saja mengingatnya.

Mimpi buruk dan yang paling buruk-Mimpi tentang kematian.

Banyak hal telah dilakukan olehnya untuk mengabsenkan mimpi itu. Namun semakin hari, bunga tidurnya semakin tampak realistis. Ada perasaan khawatir dalam dirinya. Apakah kematian memang sedang menunggunya? dan akan datang dalam waktu dekat?

Nakula bercerita banyak pada saudaranya- Sadewa. Awalnya dia tampak tidak menghiraukan. Mimpi apa yang harus ditanggapi dengan serius? Namun ketika dia kembali memerhatikan Nakula, dia menyadari tubuh saudaranya telah kehilangan banyak berat badan. Maka sebab itu, segera dia membawa Nakula untuk mengecek kesehatannya.

"Kira-kira gimana ya, mas?" tanya Nakula di sela waktu menunggu gilirannya.

Nyatanya melihat sorot matanya yang gugup, membuat Sadewa merasakan hal yang sama. Nakula adalah satu satunya yang tersisa. "Nggak usah khawatir, nanti kita sekalian ke psikolog buat mengatasi mimpi itu, ya."

Tersenyum adalah hal yang bisa dilakukan Sadewa, meski dia tahu itu tidak banyak membantu. Ketika Nakula dipanggil, tubuhnya berangsur angsur membungkuk di kursi tunggu. Entah mengapa dia kehilangan energinya untuk duduk tegak. Koridor rumah sakit penuh dengan orang-orang berlalu lalang, tapi Sadewa merasa sendiri.

Setelah ini, Sadewa harus mempersiapkan diri untuk apapun yang diucapkan dokter. Terkait Nakula entah menghasilkan kelegaan atau kekawatiran lebih lanjut. Sadewa menautkan kedua tangannya- dia masih membungkuk dan kini menghembuskan nafas berat.

Nakula sudah kembali ke sisinya, dia tidak menujukan reaksi apapun sehingga Sadewa tidak mendapatkan bocoran apapun tentang kodisi saudaranya. Namun sebenarnya, Sadewa tidak perlu terburu-buru karena tidak berselang lama tenaga kesehatan memanggilnya tanpa Nakula. Sadewa menegakkan badanya sebelum berlalu menuju ruangan yang ditunjukan.

Giliran Nakula yang ditinggal, berbeda dengan yang sebelumnya perasaanya entah mengapa menjadi lebih baik. Kekhawatirannya juga sirna, dia merasa akan baik-baik saja. Mimpi itu sepertinya memang hanya efek dari stess bekerja. Nakula mulai berfikir seperti Sadewa, tidak ada mimpi yang perlu ditanggapi dengan serius.

Tak butuh lama, Sadewa dengan beberapa kertas ditangannya menghampiri Nakula. Namun lagi-lagi sama seperti saat Nakula datang, Sadewa juga tidak banyak bicara. Sadewa memberikan senyum yang berbeda, ada rasa putus asa disana.

"Aku aman kan, mas?" Tanya Nakula.

Sadewa mengangguk pelan, "Kamu akan baik-baik saja." dia menjawab singkat.

"Ayo kita pulang, ke Rumah."

Memang dari awal, Sadewa memiliki kebiasaan yang buruk. Dia merasa bahunya yang lebar akan mampu menanggung beban sendirian. Sebagai anak tertua, tentu dia bertanggung jawab atas Nakula. Terlebih setelah orang tua mereka dinyatakan hilang saat ekspedisi ke Kalimantan. Tanggung Jawabnya pada Nakula menjadi penuh.

Tidak ada yang boleh meninggalkannya lagi.

Namun memegang kebenaran besar di tanggannya sendiri bukanlah suatu hal yang mudah. Dia harus bersandiwara sepanjang hidupnya atau sepanjang hidup adiknya. Sadewa juga perlu membuat alasan agar Nakula mau meminum obat meskipun secara bersaamaan dia juga harus meyakinkan bahwa Nakula baik-baik saja.

Sayangnya ada satu hal yang dilewatkan Sadewa, Nakula adalah laki-laki dewasa yang seumuran dengannya. Walaupun awalnya dia hanya menuruti apa yang dikatakan kakaknya, tapi semakin hari Nakula juga penasaran. Dia mencari tahu nama-nama obat yang dia dapatkan, serta kemungkinan penderita penyakit apa saja yang harus mengonsumsi obat tersebut.

Tangannya bergulir di mouse komputer sampai dia berhenti, ketika memperoleh kesipulan bahwa Sadewa berbohong. Nakula memejamkan matanya dan secara spontan ingatannya tentang mimpi buruknya terlintas. Kematian sekarang bukan perkara yang jauh. Kini dia mempertanyakan durasinya sendiri.

Ketakukan Nakula sekarang memiliki: Nama, Dosis dan obat.

Akhirnya di dalam rumah itu, tidak hanya Sadewa yang memilih berbohong. di hari-hari selanjutnya Nakula berperan seolah tidak tahu apa yang terjadi, tidak juga menanyai mengapa Sadewa tidak membicarakan isi dari laporan laboratorium. Nakula mengikuti alur yang dimainkan Sadewa.

"Sudah jam 23.00 kamu harus tidur!" Sadewa yang berada di pintu ruangan kerja Nakula bersender dengan wajah tak suka.

"Sebentar lagi, mas. Ada draft yang harus dikirim besok." jawabnya.

Namun Sadewa tidak punya toleransi terhadap perubahan jam tidur Nakula. dengan segera dia mematikan lampu, membuat orang yang sedang mengetik di sebrangnya terkejut. Sadewa menunggu Nakula beranjak dari duduknya. Namun Nakula tampaknya acuh terhadap gertakan Sadewa.

"Tidur sekarang, Nakula!"

Tangan Nakula masih mengetik di keyboard komputer, "Aku bakal ke kamar dalam 15 menit."

Satu satunya cahaya di ruang itu berasal dari komputer Nakula yang masih menyala. Sehingga objek yang bisa terlihat jelas oleh sadewa hanya wajah adiknya. Matanya semakin sayu dan kulitnya semakin kekuningan.

"Besok itu ada 24 jam, kamu bisa melanjutkanya besok, Tapi tidur kamu hari ini tidak bisa diganti esok hari." kembali Sadewa memberikan pengertian.

Ketikan di keyboard Nakula terhenti. Matanya beralih menatap Sadewa datar, "Kenapa?"

Mereka beradu pandang. Keduanya tampak berkomunikasi lewat ketajaman pupil masing-masing. Sadewa bungkam saat itu, dia memilih berdehem- tak berniat membalas. Sementara Nakula kembali berkutik dengan komputer dan draf yang masih belum selesai.

"Kamu harus tidur, Nakula. Saya mohon." Kali ini Sadewa benar-benar memohon.

"Mas belum jawab pertanyaanku sebelumnya, kan? Hal remeh loh itu." Nakula sebenarnya sudah siap apabila inilah saatnya untuk Sadewa jujur tentang penyakitnya.

Kembali Sadewa harus memutar otak, "Nggak ada alasan lain untuk tidur, selain karena ini sudah malam dan kita butuh beristirahat."

"Bukan karena…" Nakula menghentikan kalimatnya. Bergaduh dengan kakaknya karena tersulut kemarahan hanya akan memperburuk keadaan. Nakula tidak boleh merepotkan Sadewa lagi.

Nakula mematikan komputernya, satu-satunya cahaya padam. Sadewa menyalakan lampu, dan semuanya jadi terang seketika. Nakula berjalan mendahului Sadewa, tapi saat berpapasan dengan kakaknya dia mencium sesuatu yang familiar.

Bau Minuman, Sadewa mabuk malam ini.

Nakula mendengus kesal, seseorang yang protektif menjaga kesehatannya justru tidak peduli dengan dirinya sendiri. Sadewa mungkin berpikir jika begadang adalah hal yang lebih parah dari pada mengonsumsi alkohol secara rutin. Rasa berkecamuk di dadanya semakin menjadi. Nakula juga ingin menjaga Sadewa seperti yang kakaknya lakukan.

Sampai di depan pintu kamarnya, Nakula mengambil jeda. Dia menghembuskan nafasnya berat. "Minum Alkohol juga nggak bagus buat kesehatan," Tangan Nakula menggenggam daun pintu erat,

"Jangan sampai ada dua orang yang sakit di rumah ini"

Nakula menutup pintunya meninggalkan Sadewa yang mematung sendiri. Sadewa memijat keningnya pelan. Dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa apa yang dikatakan Nakula adalah efek samping dari tiga loki minumannya. Sadewa menolak percaya jika Nakula telah mengetahui segala yang dia sembunyikan.