Minggu-minggu setelah malam penuh ketegangan itu menjadi saksi bisu betapa sunyinya server Discord tanpa kehadiran satu orang yang biasanya paling berisik.

Rian awalnya tidak begitu ambil pusing. Sebagai pria berumur dua puluh delapan tahun dengan segudang kesibukan freelance dan jadwal stream yang padat, dia menanamkan di kepalanya bahwa absennya Kala hanyalah fase biasa. Logikanya terus mencari pembenaran. Mungkin dia lagi sibuk kuliah. Mungkin tugasnya numpuk.

Tapi, kebohongan yang diulang-ulang pada akhirnya akan terasa memuakkan juga. Seminggu berganti dua minggu, dan dua minggu merangkak pelan menjadi sebulan penuh.

Rian mulai menyadari rutinitasnya berantakan. Biasanya, sebelum dia mulai menyalakan PC, selalu ada notifikasi masuk di ponselnya. "Abang stream jam berapa hari ini? Dede udah siapin camilan nih." Sekarang? Layar ponselnya sepi.

Setiap kali Rian masuk ke voice channel di servernya sendiri, Kala nyaris tidak pernah ada di sana. Kalaupun nama gadis itu muncul di deretan online, indikatornya selalu kuning (idle) atau merah (do not disturb). Dan yang paling membuat dada Rian berdenyut aneh adalah fakta ini, setiap kali Rian bergabung ke dalam obrolan tempat Kala berada, tidak sampai lima menit kemudian, suara khas Discord berbunyi, diikuti notifikasi abu-abu di pojok layar, Kala went offline.

Gadis itu sengaja. Rian tidak bodoh untuk tidak menyadarinya. Kala sedang memutus akses seolah Rian adalah zona radiasi yang harus dihindari sejauh mungkin.

"Kala kemana sih?" tanya Rian suatu sore di channel kecil yang hanya berisi dirinya, Dita, dan Sena. Dia memutar-mutar korek api di tangannya, mencoba terdengar seolah itu pertanyaan numpang lewat, tapi jemarinya yang mengetuk meja membongkar kegelisahannya.

Dita terdiam sejenak sebelum menjawab dengan nada santai yang kentara sekali dibuat-buat. "Ada kok, Bang. Tadi siang baru aja voice sama kita berdua sambil nugas."

"Kok pas gue masuk, dia langsung cabut?" tembak Rian langsung.

Sena buru-buru mengambil alih. "Ya… mungkin emang pas berpapasan aja kali, Bang. Kala kan sekarang jadwal kampusnya lagi gila banget. Kemarin aja dia cerita lagi pusing ngurusin tugas akhir, nggak kayak dulu yang bisa standby di sini 24 jam."

Rian hanya bisa menghela napas, menyandarkan kepalanya ke kursi gaming. Dia merasa ada yang salah, seperti mesin yang kekurangan satu baut penting hingga suaranya terus-menerus terdengar sumbang.

Karena rasa frustrasi yang tak ada habisnya, Rian akhirnya lebih sering 'mengungsi' ke server teman-teman sesama streamer-nya, Bimo dan Arka. Setidaknya di sana dia bisa berpura-pura semuanya baik-baik saja.

"Muka lu kenapa dah, Yan? Tekuk amat kayak cucian belum dijemur," celetuk Bimo saat mereka sedang jeda bermain Valorant tengah malam itu.

"Nggak tau. Lagi burnout aja kayaknya," gumam Rian parau. "Gue ngerasa sepi banget akhir-akhir ini. Server gue kayak kuburan."

Arka tertawa kecil dari balik mikrofonnya. Dia tahu betul siapa 'nyawa' server yang dimaksud Rian. "Bukannya lu sendiri yang bilang pengen tenang? Lu yang bilang si Dede, eh, Kala, itu kadang 'ngerusak vibes', kan? Sekarang udah dikasih tenang, kok malah lu yang gelisah?"

"Ya nggak sediem ini juga, Ka," kilah Rian cepat. "Dia bener-bener kayak orang asing sekarang. Sekalinya muncul, sopannya minta ampun. Nggak ada bawelnya sama sekali. Gue berasa lagi ngobrol sama customer service bank, bukan sama Kala."

"Yan, lu tuh denial-nya udah stadium akhir tau nggak?" Bimo menimpali sambil menghembuskan asap rokok, suaranya terdengar malas tapi menusuk. "Udah sebulan lu ngeringkuk di pojokan voice cuma buat ngecekin satu nama doang online atau nggak. Lu tuh ada rasa sama dia, sadar nggak sih?"

"Gak mungkin lah, gila," bantah Rian refleks, tapi suaranya bergetar. "Dia jauh lebih muda dari gue, beda delapan tahun, Bim. Umur segitu lagi labil-labilnya. Gue cuma… gue cuma ngerasa bersalah aja karena kemarin gue tegur dia terlalu keras."

"Bersalah doang nggak bakal bikin lu uring-uringan pas liat dia ketawa sama cowok lain di live chat lu, Yan," pungkas Arka telak. Rian seketika terdiam.

— — —

Malam minggu itu, Rian memutuskan untuk melakukan stream. Dia butuh distraksi. Matanya terus melirik ke deretan viewers, mencari satu username yang biasanya selalu nangkring di urutan paling atas.

Satu jam berlalu, nama itu akhirnya muncul. Kala.

Tapi gadis itu tidak menyapa. Tidak ada "Malam Abang!" huruf kapital dengan stiker kucing yang biasa ia kirim. Dia hanya diam, memantau sebagai penonton pasif. Rian mencoba memancing suasana, melontarkan lelucon receh yang biasanya akan membuat Kala membalas dengan rentetan teks capslock karena gemas. Namun, kotak chat tetap bergerak cepat tanpa ada satu pun pesan dari Kala.

Bahkan ketika ada penonton baru yang terus-menerus memberikan komentar agak troll ke Rian, Kala tetap bungkam. Padahal dulu, Kala adalah garda terdepan yang akan membalas komentar sinis itu demi membela Rian.

Melihat nama Kala ada di sana tapi terasa begitu jauh, fokus Rian hancur lebur. Dia salah melakukan rotasi di dalam game, tidak fokus membaca chat, dan mood-nya anjlok parah.

"Oke guys, sorry banget kayaknya malam ini sampai sini dulu. Gue lagi agak nggak enak badan, kepala gue nyut-nyutan," ujarnya pelan, menutup stream dua jam lebih awal dari jadwal biasanya tanpa outro yang layak.

Dia mengusap wajahnya kasar, lalu membuka tab Discord. Matanya langsung tertuju pada Voice Channel 1. Ada Kala di sana. Berdua bersama Dita. Tanpa berpikir panjang, Rian menekan tombol join.

"…iya Dit, pusing banget aku. Kerangka analisisnya harus dirombak total ternyata. Dosenku minta basis alokasi-nya diubah fokus ke enam bentuk provisi sosial itu, tau kan? Terus aku juga — "

Suara antusias Kala mendadak terputus begitu suara khas user joined berbunyi. Keheningan langsung menyergap channel itu, kaku dan mencekik.

"Lanjutin aja, Kal. Aku cuma mau numpang denger," suara Rian melembut, memecah kecanggungan, nyaris terdengar seperti memohon.

"Eh… udah selesai kok, Bang, bahasnya," jawab Kala pelan. Nadanya kembali menjadi sangat datar, sangat hati-hati, seolah takut langkahnya akan memicu kemarahan Rian lagi. "Dit, aku out duluan ya? Mau lanjut revisian."

"Bentar, Kal," cegat Rian cepat, sebelum gadis itu sempat menekan tombol disconnect. "Beneran mau revisian, atau karena ada aku masuk?"

Kala terdiam cukup lama di seberang sana. Rian bisa mendengar suara napas kecil Kala yang tertahan. Di kamarnya yang remang-remang, Kala sedang mencengkeram ujung sweater-nya kuat-kuat. Jantungnya bergemuruh hebat. Rasanya dia ingin sekali luluh. Dia ingin menangis dan bilang kalau dia benci bersikap pura-pura tidak peduli seperti ini. Tapi ego dan traumanya menahan itu semua.

"Beneran tugas, Bang," dusta Kala. Suaranya diusahakan setenang mungkin, meski getaran tipis masih lolos. "Harus ngelanjutin draf bab dua yang bahas pengaruh self-esteem terhadap academic achievement itu, deadline-nya mepet. Duluan ya semua. Mari, Bang Rian."

Click.

Kala menghilang dari channel.

Di detiknya menekan tombol leave, pertahanan Kala hancur tak bersisa. Dia melepas headset-nya kasar, menjatuhkan wajahnya ke lipatan tangan di atas meja belajarnya, dan menangis tergugu. Dadanya luar biasa sesak. Dia rindu. Sangat rindu pada pria itu. Tapi dia takut. Dia terlalu takut untuk kembali maju dan dianggap sebagai pengganggu yang merusak suasana. Menjadi asing dan dingin seperti ini rasanya menyiksa, tapi setidaknya ini melindunginya dari penolakan yang lebih menyakitkan. Kala merutuki dirinya sendiri yang hanya bisa menangis diam-diam demi menjaga batas warasnya.

Sedangkan di voice channel yang kini hanya menyisakan Rian dan Dita, suasananya berubah kelam. Rian menunduk, matanya menatap kosong ke arah deretan nama di Discord yang tidak lagi memuat nama Kala. Dia meremas kabel headset-nya dengan perasaan hancur.

"Gue emang beneran udah kehilangan dia ya, Dit?" bisik Rian pelan, suaranya parau menahan sesak.

Terdengar helaan napas panjang dari Dita di seberang sana. Gadis itu terdengar kasihan, sekaligus lelah melihat keras kepalanya pria dewasa ini.

"Bukan kehilangan, Bang," jawab Dita lirih namun menancap tepat di jantung Rian. "Abang cuma lagi ngerasain… gimana rasanya kedinginan nunggu di depan pintu rumah, yang kuncinya udah Abang buang sendiri ke laut."