Sedang di dapur rumahku yang lebarnya tak lebih luas dari dapur kantor , kulihat uap masakan ibu yang harum memenuhi tiap inci ruangan .

Ibu, dengan wajah teduh dan apron favoritnya — motif kotak-kotak, dengan lihai mengatur ritme air keran sembari membalur piring demi piring dengan air sabun beraroma lemon favoritnya.

Dan aku, dengan wajah yang penuh dengan warna-warni rias dan bulu mata lentik yang sudah kujepit lama, bersiap untuk berangkat bekerja dan mendatangi ibu yang sedang asyik mencuci piring.

"Bu, berangkat ya. Malem nggak usah buatin makanan apa-apa, istirahat aja." ujarku sambil menyalami tangan kanan nya yang mulai mengeriput digenggam air dan sabun.

"Hati-hati ya, berdoa semoga hari ini dilancarkan." singkat pesan dan doa ibuku mengudara padaku.

Setiap pagi, aku memilih luntur.

Tak apa riasan hidungku retak, asal restunya tak pernah.

Tak apa hidungku tertempel busa sabun, asal restu ibu ikut menempel pada keputusan dan jalan hidupku.

Bu, andai Tuhan menciptakan hidup mengulang hingga ribuan kali, biarkan busa piringmu tetap menempel pada hidung dan riasanku, sebab aku akan tetap memilih cacat dengan cinta daripada tak lagi menggenggam erat jari jemarimu.

ketika kau berdiri di depan bak cuci dan aku berdiri sebagai anak yang masih kau sebut "anak-anak" di umur yang sudah berkepala dua namun masih ingin mencium tanganmu sebelum dunia memanggil namaku dengan keras.

Busa itu mungkin menghapus sedikit warnaku, bu. tapi ia tak pernah menghapus restumu.

Dan jika suatu hari riasanku benar-benar sempurna, aku harap itu bukan karena aku lupa bagaimana cara pulang, ke tanganmu.