Montreal, 2025.
He kept pushing his body without mercy. Until pain become the only thing that felt honest.
Gym asrama ramai ketika Rafael melangkahkan kaki. Lampu-lampu putih menyala, memantulkan bayangan tubuh di cermin-cermin besar. Bau besi dan keringat bercampur, mengiringi helaan napas tergesa orang-orang yang menggenggam alat berat.
Rafael membuka mantel tebalnya dan menarik turtle neck dalam satu gerakan kasar sebelum melempar ke sembarang arah, menyisakan hanya kaos tanpa lengan membalut tubuh—yang entah sejak kapan tak lagi merasakan dingin.
Rafael berjalan menuju bangku bench press. Dingin merambat ke lengan ketika dia menyentuh plat, mengangkat, dan menaikkannya ke bar. Plat terus ditambah hingga beban menyentuh berat 80 kilogram.
Rafael berbaring dan menggenggam bar, merasakan berat tumpukan besi menekan telapak. Dia membusungkan dada, lalu menarik napas dalam-dalam sebelum mengangkat beban yang hampir setara dengan berat badannya.
Repetisi pertama berhasil meski Rafael mendorong besi-besi itu sambil ngos-ngosan. Repetisi kedua, tangan mulai gemetar sementara urat-urat di leher tampak menonjol. Repetisi ketiga, pelipis menegang sedangkan rahang mengeras ketika bar hampir jatuh ke dada jika dua tangan lain tak sigap menangkap dan mengembalikannya ke rak.
"Man, what are you doing?" Akshay berdiri dengan raut heran serta kaos basah oleh keringat.
Rafael duduk, lalu menyeka peluh di dahi sambil menata napasnya kembali. "Thanks. I'm fine."
"That's not fine," kata Akshay sembari menunjuk plat beban. "You didn't even warm up and lifting like you're trying to hurt your arm."
Rafael tak menghiraukan. Dia bangkit dan berjalan ke rak dumbbell, lalu mengambil dua beban yang terlalu berat untuk lateral rise. Dia bungkuk sedikit sebelum mengangkat dumbbell sambil menggertakkan gigi. Lengannya masih bergetar, tetapi tetap dipaksa sampai-sampai bahunya terasa seperti disayat.
"Look like you're mad at your own body," ucap Akshay.
Rafael berhenti dan meletakkan dumbbell keras—hampir membanting—ke lantai. "I said I'm fine." Dia menunduk sembari merasakan napas lolos terlalu berat dan keringat membasahi rambut yang menempel di kening.
Akshay menghela napas. "You don't have to tell me what's going on." Pemuda itu duduk di bangku bench press sambil menggelengkan kepala dan menatap iba, seolah paham Rafael menyembunyikan sesuatu. "But don't wreck yourself."
Rafael mengabaikan lagi. Dia beralih ke cable machine, kemudian menyambar handle. Setiap gerakan terasa kosong sebab Karina muncul di kepalanya tanpa diundang. Wajah dan kalimat yang gadis itu lontarkan membuat Rafael menarik handle berhebihan tanpa ritme maupun hitungan hingga bahunya terasa nyeri.
Akshay mendekat. Tatapan pemuda itu jatuh pada beban cable machine yang berada di angka 70 kilogram sebelum menatap bahu Rafael yang bergetar seperti meminta pertolongan. "Are you trying to kill yourself?"
Napas Rafael tercekat sesaat. Dia melepas handle begitu saja sampai-sampai dentingan besi bertemu besi menggema di udara berhasil membuat sebagian orang menoleh sementara sebagian lain menghentikan kegiatannya sejenak.
Rafael menggeleng. "Don't exaggerate."
Akshay mendecakkan lidah. "Bench press and then lateral rise," ujarnya. "No rest. No warm up."
Rafael membaringkan tubuh ke lantai, lalu membentangkan tangan dan kaki sembari memejamkan mata. Dia mengatur napas, membiarkan perutnya naik turun ketika hidung berusaha menarik udara dalam tempo berantakan. "What would you do…" lirihnya. "If the woman you're fighting for… doesn't want you?"
Akshay duduk dan menekuk lutut di sebelah Rafael, kemudian berdeham. "We've talked about this before, remember?" katanya. "When Gio's nephew asked us something similar."
Rafael membuka mata dan menautkan kedua lengannya ke belakang kepala sebagai bantalan. "Yeah…"
"I remember you said—"
"Fight for her, at least until you know you've done enough," sambar Rafael.
Akshay mengangguk. "Exactly," ucapnya. "So… have you done enough?"
Rafael diam sambil menatap lampu putih di langit-langit yang membuatnya menyipitkan mata. Dia menggumam ragu. "I don't think… I have…"
"Then, there's your answer." Akshay meluruskan kaki, lalu memijat lutut kirinya pelan. "But, not today."
Rafael sontak duduk tegak dan menoleh Akshay sambil mengerutkan kening hingga kedua alisnya hampir bertaut. "What do you mean?"
"You can't fight with a head this loud," ujar Akshay. "Yu Xuan was right… go out of town. Clear your mind before you decide to keep going or… stop everything."
"Do you have your phone with you?" imbuh Akshay tiba-tiba.
Rafael mengangguk, kemudian menunjuk saku celana.
Akshay meraih ponselnya yang tergeletak di lantai, menggulir layar dengan jari dalam gerakan cepat sebelum kembali menatap Rafael. "I sent you something."
Ponsel Rafael bergetar di saku. Pesan dari Akshay muncul di notifikasi layar kunci.
AKSHAY: "Toronto to Niagara Falls tour."

Rafael menatap ponsel dan sontak mendongak dengan salah satu alis terangkat. "Why?"
"Hackathon prize last week," sahut Akshay sembari mengangkat bahu. "I can't use it cause I have to meet my supervisor to discuss my thesis on the same day."
Rafael menggeleng. "But—"
"I'm not asking you to," potong Akshay segera. "Up to you you'll use it or not. I just thought… you might need to get out for a bit."
Rafael menelan ludah dan kembali menatap ponselnya. Kalimat Akshay terdengar seperti sesuatu yang sudah lama dia butuhkan. Kota ini… terasa terlalu penuh oleh Karina.
"Niagara?" tanya Rafael. "Why there?"
Akshay terkekeh. "It's loud. Bigger than whatever's in your head."
Rafael menutup dan mengantongi ponsel sebelum kembali duduk dengan siku memeluk lutut sembari merasakan dadanya naik turun teratur.
"Thank you."
Akshay bangkit, lalu menepuk bahu Rafael. "Heal properly."
Rafael ikut berdiri dan membereskan peralatan sebelum memunguti pakaian yang tadi dilempar asal.
Rafael tahu dia tak akan sembuh dalam beberapa hari, pun tahu Karina tak akan tiba-tiba menghilang dari benaknya hanya karena air terjun. Tetapi, mungkin dia bisa berhenti mengingat caranya ditolak meski hanya sebentar.
