2009.
Umur kedua cucu pemilik rumah gedong yang setiap hari kakeknya bersihkan masing-masing 5 tahun. Ulang tahunnya di tanggal yang sama, aneh tapi nyata. Selama dua tahun ikut kakek menjaga kelestarian lingkungan rumah ini, setiap tanggal 14 Oktober akan banyak mobil berdatangan dengan orang-orang yang kelihatan sukses di dalamnya.
Hari itu—seminggu setelah perayaan ulang tahun Haili dan Andy—terdengar suara keributan di dalam rumah, seperti ada yang jatuh ke lantai. Lalu tak lama suara tangis gadis kecil memenuhi ruangan, bahkan terdengar sampai ke telinga Adit yang sedang memotong rumput di halaman belakang dekat kolam renang.
Dia bernama Adit. Bersama sang kakek, menjadi saksi bisu atas semua yang terjadi di rumah keluarga Hartio.
Usianya baru sepuluh tahun saat dia pertama kali diajak oleh kakek ke rumah gedong itu. Kini, dua tahun berlalu tak ada yang berubah. Pilih kasih yang Nyonya Besar berikan antara dua cucunya tampak sangat nyata di matanya. Tapi Adit heran, kenapa orang tua Haili tak bertindak jauh kala anaknya dicaci atau dipukul neneknya.
"Mamaaa… Nena pukul Ili… Ili nggak jahat, kan, Ma? Ili nggak mau Didi sedih… Tapi… tapi…." Suaranya tersendat di antara isakan. Sementara, sang Mama berhenti menyirami bunganya, pandangannya dialihkan pada anak semata wayangnya dengan mata penuh khawatir.
Adit bahkan bisa menebak yang akan terjadi selanjutnya.
"Ssst… tenang, Sayang… Nyai ceritakan ke Mama, pelan-pelan, ya?" ucap Dian, Mama Haili. Sambil berjongkok di depan anaknya, tangan kurus itu mengusap lembut surai gadis kesayangannya.
Benar tebakan Adit.
Haili mengangguk, masih tersedu, lalu mulai menceritakan semuanya.
Katanya, dia sedang melukis bersama Andy di depan neneknya lalu setelah selesai gadis itu memamerkan hasil lukisannya. Yang ia lukis di kanvas itu adalah keluarga. Ada Haili, Mama, Papa, Andy dan Neneknya. Kemudian Andy bertanya kemana orang tuanya, dengan polos Haili menjawab orang tua Andy sudah di Surga. Andy tidak terima—dia menganggap orang tuanya pergi bekerja saat dirinya belum bangun dan pulang saat dia sudah tidur. Tentu Andy menangis, dan selanjutnya seperti biasa, neneknya memukul Haili.
Adit sering mendengar cerita serupa. Biasanya, yang selanjutnya Mama Haili lakukan adalah menyuruh anaknya masuk kamar, lalu melupakannya begitu saja. Kembali ke aktivitasnya seakan tak pernah terjadi apapun.
Namun, kali ini berbeda.
Memang Haili diantar oleh Nyonya Dian ke dalam kamarnya tapi setelah itu, Nyonya Dian keluar, dan menutup pintu pelan, lalu dia menghampiri Ibunya, Nyonya Besar, di ruang santai belakang, dekat kolam renang.
Otomatis Adit duabelas tahun itu masih bisa leluasa menguping.
"Aku gak bisa sabar lagi, Bu. Haili anakku, Haili cucu ibu juga! Tapi kenapa Ibu enggak pernah memperlakukan dia layaknya cucu rumah ini, kenapa?" tanyanya. Nafasnya cepat, Nyonya Dian menahan tangis di hadapan Nyonya Besar.
"Dia bukan cucu saya."
Jawaban menusuk dari Nyonya Besar membuat Adit ikut membulatkan mata. Gunting rumput di tangannya jatuh, untung saja jatuhnya di rerumputan, jadi tak menimbulkan suara yang dapat membuatnya kepergok menguping.
"Kamu anak bodoh yang pernah saya punya, Dian," Adit yang mendengar itu semakin terkejut. "Saya jodohkan dengan Antonio, pengusaha sukses yang hidupnya sudah terjamin tapi kamu malah pilih tentara yang sudah beristri. Akhirnya dia dipecat dan menjadi benalu keluarga Hartio. Otak kamu di mana, Dian?"
"Ibu gak akan pernah ngerti apa yang aku rasain," kata Nyonya Dian. "Suamiku, cinta pertamaku!" tegasnya.
"Artinya kamu bodoh."
Adit tak berani bergerak dari tempatnya. Sambil memainkan rumput, dia memberanikan diri untuk menengok ke arah dalam rumah. Hanya ada Nyonya Dian berdiri di depan kursi goyang Nyonya Besar yang masih berayun.
Wanita itu menangis. Adit bisa melihat betapa frustasinya majikannya menghadapi ibu yang selalu terdengar merendahkan suaminya, mencaci anaknya dan tak jarang menyebutnya bodoh karena memilih pilihannya sendiri.
Adit masih tak berani bergerak sampai akhirnya Bi Inem datang membawakan secangkir teh pada Nyonya Dian lalu menghampiri Adit dan mengajaknya untuk pergi dari sana, mereka ke dapur kotor. "Nyonya tau kamu daritadi di sana kaya bunglon," kata Bi Inem. Tentu Adit terkejut, acara mengupingnya ternyata ketahuan sejak awal. Dia malu.
"Nyonya nyuruh kamu tutup mulut apapun apa yang kamu dengar tadi." kata Bi Inem lagi. Adit hanya mengangguk lalu kembali ke pekerjaannya yaitu memangkas rumput di tempat yang tentunya beda dari yang tadi.
Langit semakin gelap. Pekerjaan Adit dan kakek sudah selesai dan keduanya tengah membersihkan kaki di keran dekat pos security sebelum pulang. Tiba-tiba kakeknya berlari ke arah gerbang, ternyata ada mobil yang akan masuk—kakeknya membantu membukakan gerbang tinggi itu bersama pak security.
"Adit udah selesai belum?" tanya kakeknya yang melihat Adit malah bengong ke arah pintu rumah Hartio. "Dit?" Sekali lagi kakek memastikan.
"Papanya Haili keliatan marah, Kek," ucap Adit takut.
"Jangan mikirin yang bukan urusan kita, Dit. Kamu gak bakal ngerti masalah mereka, begitupun sebaliknya. Mereka beda sama kita."
"Bedanya apa?" tanya Adit. "Kita sama-sama makan nasi, kita bernafas dengan paru-paru, apa lagi coba bedanya?"
Kakek berusaha menjawab. "Adit mau tau bedanya?" Lalu Adit mengangguk. "Mereka beli beras sekaligus berkarung-karung, sedangkan kita cuma segenggam di warung. Udah keliatan belum bedanya, Dit?"
"Masalah uang, ya?"
Kakek tak bisa menjawab, untungnya Adit mengerti. Kini, mereka berdua benar-benar akan pulang. Tapi, lagi-lagi keduanya dikejutkan oleh pintu rumah Hartio yang ditutup dengan keras. Di sana ada Nyonya Dian, Haili dan Pak Susant Kartana membawa tiga koper dan langsung dimasukkan ke dalam bagasi mobil hitamnya. Adit menyaksikan itu dari luar, sementara kakeknya membantu membukakan gerbang lagi.
"Pak Kusnadi, titip rumah ya. Tolong jaga Andy sama Ibu, saya pamit dulu." Ucap Nyonya Dian pada kakek di kaca mobil yang terbuka.
Kakek menganggukkan kepala. Dia hanya bisa mengiyakan ucapan Nyonya Dian tanpa berani bertanya alasannya.
Sejak itu mereka bertiga tak pernah kembali ke rumah Hartio. Selama sepuluh tahun, terhitung hanya dua kali Nyonya Dian berkunjung. Itupun tak bersama Pak Susant dan Haili. Tapi, setiap tanggal 14 Oktober masih suka diadakan pesta ulang tahun untuk cucu rumah ini walaupun hanya tinggal Andy seorang tapi nama Haili selalu ada di karangan bunga pemberian para tamu.
"Saya bertahan di rumah Hartio sampai sekarang karena mereka yang memberikan saya dan kakek kehidupan,"
"Sejak kakek sakit dan Nyonya Besar tau... Semua biaya dan kebutuhan kakek ditanggung olehnya."
2019.
Nyonya Dian datang ke rumah untuk kedua kalinya dalam sepuluh tahun. Ternyata selama ini mereka tinggal di perumahan di Kabupaten Bogor dan Pak Susant tak lagi bekerja di perusahaan milik keluarga Hartio.
"Suamiku bukan lagi benalu, Ibu bisa lihat sekarang, dia bisa sukses tanpa bantuan Hartio." kata Nyonya Dian.
"Sesukses apa pun dia, kalian tetap tidak akan pernah bisa melampauiku. Andai dulu kamu memilih Antonio, sekarang kamu pasti sedang berpindah-pindah negara, bebas tinggal di mana saja—bukan terjebak di kabupaten yang dulu kamu hina.
Masih ingat Swiss? Kamu bilang ingin menetap di sana, tak akan pernah kembali ke Indonesia. Kamu benci hujan. Pernah terjebak berjam-jam di Bogor, lalu bersumpah tak akan pernah menginjakkan kaki di kota itu lagi.
Dulu kamu merasa begitu tinggi, Dian. Sekarang? Lihat dirimu. Bahkan bajumu pun tak lagi punya nama."
Kalimat yang keluar dari mulut Ibunya tak pernah tak menusuk. Hati Dian sakit tapi kali ini dia sudah lebih dewasa, tak lagi menanggapinya dengan air mata tapi dengan senyum sinis yang menandakan bahwa dia berani menjamin keputusan yang ia ambil tak salah.
"Buat apa bisa keliling dunia kalau hidup Ibu sendiri gak bahagia?" Ucapan Dian berhasil membuat ibunya mendelik. "Ibu pikir aku gak tau kalau Ibu rela tinggalin cinta pertama Ibu demi harta yang keluarga ayah miliki? lalu Ibu bunuh ayah perlahan, ambil semua hartanya dan berencana kembali ke orang di masa lalu. Tapi sekarang Ibu menyesal karena dia udah punya cinta sejatinya sendiri, Ibu kesal kan?" Nyonya Dian tertawa remeh kemudian berbisik. "Ibu kesal lalu ingin melenyapkan semua orang di muka bumi ini sehingga hanya tersisa kalian berdua lalu kalian bisa kembali bersama, begitu, kan, Bu?" Bisikannya terdengar mengancam.
Nyonya Dian membuang nafas kasar. "Sayangnya aku enggak sekotor ibu."
Wanita itu berbalik badan hingga membuat Adit panik dan buru-buru pergi—pura-pura ingin menyapu halaman samping.
"Aku enggak sehina ibu—setidaknya Aku enggak akan menyesal dikemudian hari, seperti ibu yang malah mempekerjakan laki-laki yang ibu cinta menjadi tukang kebun di rumah ini. Apa ibu enggak mikirin perasaannya?"
Telinga siapapun yang mendengar semua kalimat yang keluar dari mulut Dian pasti memanas. Kebetulan kala itu Adit masih sempat menguping sambil memegangi sapunya. Dan, kalimat selanjutnya berhasil membuat dunia Adit berhenti seketika.
"Pak Kusnadi sakit, kan? Dan Ibu yang membiayai seluruh perawatannya. Ibu berpura-pura memberi dana kesehatan karyawan, karena Ibu tahu—kalau menggunakan nama Ibu sendiri, Pak Kusnadi pasti akan menolaknya mentah-mentah. Dan Ibu juga yang membunuh istri Pak Kusnadi — "
Kalimat Dian terputus oleh suara tamparan yang membelah ruangan.
Plak.
Kepalanya terhempas ke samping. Pipi kirinya langsung memanas, nyeri menjalar cepat, tapi Dian tidak jatuh. Ia tidak berteriak. Tidak menangis. Ia hanya terdiam sepersekian detik, menelan rasa sakit yang mengendap di rahangnya.
Ibunya berdiri dengan napas memburu, tangan gemetar masih terangkat di udara.
Dian perlahan menegakkan kepalanya kembali. Matanya basah, tapi sorotnya tetap utuh—tidak runtuh, tidak memohon. Ia menyentuh pipinya sebentar, lalu menurunkan tangannya, seolah rasa sakit itu tak cukup kuat untuk membuatnya mundur.
"Silakan tampar aku," ucapnya tenang, suaranya sedikit serak namun mantap. "Tapi itu tidak akan mengubah kebenaran."
Ia menatap ibunya lurus, tanpa gentar.
"Aku sudah terlalu lama diam. Dan kali ini, aku tidak akan menarik ucapanku hanya karena Ibu marah."
Ruangan itu mendadak sunyi. Bukan karena tamparan tadi—melainkan karena Dian tetap berdiri, tak bergeser satu langkah pun.
"Kamu mau apa?" tanya ibunya sinis. Yang Dian tunggu-tunggu akhirnya terucap.
"Stop ganggu kami!" Dian menatap lurus ke arah ibunya. "Biarkan dia jadi anak normal tanpa harus dikelilingi bayang-bayang Hartio—"
Ucapan Dian terpotong oleh tawa sang ibu. "Dian… Dian," ucapnya tenang, dengan senyum tipis yang sama sekali tidak sampai ke matanya. "Dia emang bukan bagian dari Hartio, lihat saja namanya, berbeda dengan Andy yang dengan leluasa menggunakan nama keluarga kita. Kamu masih mau saya jelaskan perbedaan antara Haili dan Andy?" tanyanya mengintimidasi.
Wajah Dian memerah. "Ibu suap pihak sekolah supaya nggak nerima Haili, ibu pikir aku gak tau itu?"
"Oh, ternyata cuma itu," ujar sang ibu sambil tertawa pendek, tawa yang sama sekali tak menyisakan kehangatan.
"Kamu jauh-jauh datang ke sini, bicara panjang lebar, mengungkit ini dan itu," lanjutnya dengan nada meremehkan, "dan ujung-ujungnya hanya soal sekolah?"
"Kenapa saya harus membantu?" katanya datar, nyaris tanpa emosi. "Dia bukan cucu saya. Mau dia sekolah atau tidak, itu bukan urusan saya."
"Lagipula," ucapnya sembari menyilangkan tangan, tatapannya mengeras, "anak itu gak akan pernah sejajar dengan Andy. Dia enggak punya darah Hartio."
"Jangan bermimpi terlalu tinggi," lanjutnya dingin, "saya bahkan gak yakin dia pantas menginjak bangku pendidikan tinggi."
Rahang Dian mengeras. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, kuku-kukunya menekan telapak tangan hingga nyeri. Ada begitu banyak kata yang ingin ia lontarkan, tetapi semuanya tertahan di tenggorokan. Ia memilih diam.
Dian menunduk sesaat, menarik napas panjang untuk menelan rasa kesal yang membakar dadanya. Tatapannya kemudian terangkat kembali—tenang, meski matanya berkilat.
Dalam hati, Dian tahu. Ia yakin. Anaknya tidak akan menjadi seperti yang ibunya katakan. Darah bukan penentu nilai seseorang. Dan suatu hari nanti, tanpa perlu pembuktian apa pun, anak itu akan berdiri lebih tinggi dari semua keraguan yang barusan dilontarkan kepadanya.
"Saya enggak pernah ngasih tau siapapun soal Kakek sama Nyonya Besar. Tapi kalo soal nenek... awalnya saya juga heran, dulu beliau sangat sehat, ceria, gak ada nunjukin kalau beliau sakit sedikitpun. Tapi tiba-tiba tubuhnya drop setelah Nyonya Besar kasih oleh-oleh teh herbal dari luar negeri.. Saya enggak mau suudzon tapi... ya gitu lah, Mas,"
"Terus kalau soal Haili... Waktu nyonya besar sakit, dia jenguk setiap hari minggu terus saya ceritain ke kakek. Saya foto diam-diam dan tunjukin wajahnya ke kakek dan ternyata dari situ kakek mulai perhatiin Haili, dia hafalin mobil dan plat nomornya."
"Apa ada kemungkinan kakek kamu menabrakkan diri ke mobil Haili?" tanya Meru.
Adit sedikit gugup, dia tak yakin dengan pertanyaan Meru. "Tapi untuk apa?"