Sebelum Indonesia benar-benar menjadi lautan api, senang bisa mencintaimu sederas hujan. Aku bersyukur menyukaimu seada-adanya, sehingga aku mengerti bahwa jutaan burukku pun masih memiliki satu kebaikan pula.
Tak pernah kusesali sayangku padamu sama halnya seperti benciku pada tikus bodoh yang gemar menari di pojok rumah. Mataku selalu rapat tertutup pada bualanmu, berbeda saat lebar mataku terbuka begitu mendapati bangkai ngengat di antara halaman buku harian. Kututup rapat telingaku tentang apa-apa yang tercela darimu macam pejabat tuli nan bisu.
Sebesar itu hatiku mengaminkan namamu hingga dangkal akal dan pikiranku. Begitu dangkal sampai-sampai kau akan berpikir, betapapun dangkalnya manusia dimabuk cinta, aku tak lebih bodoh dari tikus yang kubenci karena ego pribadi.
Pada dasarnya, pada pupilku kau indah sebagai pelangi selepas hujan di antara lahap api dan bengis perangai kota pun seisinya. Maka kuulang sekali lagi, sayang; Sebelum Indonesia benar-benar menjadi lautan api, aku senang bisa mencintaimu sederas hujan.
Atas kesedihan orang yang teraniaya.
Cari mereka hingga ujung dunia.
Atas kebengisan orang yang berkuasa.
Bawa kami pada jalan keadilan