Entah berapa lama aku menatap wajahnya, jenaka. Aku selalu suka. Celetukannya, asbunnya, cara bicaranya, bagaimana ia berdiskusi, bertukar pikiran denganku, menatapku, dan tertawa.
Oh, entah bagaimana rasanya dicintai olehmu. Tak harap yang istimewa, berfoya-foya, mengenakan jas mahal dan tampil dengan rambut klimis. Kau cukup menawan untukku. Bagaimanapun caramu, bahkan jika kau hanya diam. Aku selalu penasaran, bagaimana isi pikiranmu?
Satu — empat dan belasan kali, aku pinta izinmu untuk kusita sejenak waktumu. Tak lupa kupertimbangkan, ya, kau senggang. Kutanya bagaimana wanita yang pernah kau sukai, bagaimana kisah kita yang hampir serupa, bagaimana harimu, apa yang kau makan, kapan kita bertemu, maukah jalan denganku, dan lain sebagainya.
Entah, aku suka apapun bagianmu. Beberapa dari temanmu seringkali bertanya, bagaimana hubunganku denganmu?
Ya, memangnya.. ada apa dengan kita?
Aku.. hanya menyita waktumu sejenak, berbicara perihal kehidupan yang kaya akan lara. Salah paham atau memperdaya?
Bahkan, jika iya, aku terpedaya hanya karena omong kosong itu. Aku terbuai dengan obrolan mereka, aku.. nyaman dan hanyut dalam lamunan. Esok kita berjumpa — tidak, selamanya, kita bersama dalam fana.
Namun, sudikah kiranya engkau, bersamaku merajut takdir hingga fana tiba?