Perjalanan - Siang itu, langit Jepara masih bersahabat saat kami menjejakkan kaki kembali ke daratan setelah melalang buana dari Karimunjawa. Angin laut masih tersisa di kulit, dan tubuh kami belum sepenuhnya pulih dari perjalanan panjang. Tapi tak ada jeda. Hanya semangat yang mengalir deras—kami tahu, perjalanan belum usai. Tujuan berikutnya: Desa Sumberrejo, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara. Sebuah tempat yang namanya mulai ramai diperbincangkan karena rencana tambang yang mengancam. Kami datang dengan satu misi—mengangkat isu ini ke dalam sebuah video dokumenter, mencoba menyuarakan keresahan warga yang terdampak. Namun siapa sangka, perjalanan menuju ke sana justru menjadi babak baru dalam cerita kami—kisah yang jauh lebih dalam dari yang kami bayangkan. Sebab, setibanya di sana, tak hanya mata kami yang terbuka, tapi juga hati kami yang tergerak. Apa yang awalnya hanya proyek liputan, perlahan menjelma menjadi pengalaman yang mengguncang batin.
Bermodalkan Google Maps dan keyakinan yang kadang goyah, kami berenam melaju dengan motor. Jalan mulai berubah bentuk: dari mulus menjadi tambal sulam, dari aspal menjadi bebatuan. Setiap kelokan membuat kami bertanya dalam hati: "Masih jauh kah? Apakah sudah dekat? Apa benar ini jalurnya?" Di antara guncangan dan debu, waktu terasa melambat. Kami masuk wilayah Donorojo—secara administratif, ini merupakan kecamatan dari Desa Sumberrejo. Harapan mulai menyala, kami pikir tujuan sudah dekat. Tapi ketika kami berhenti di sebuah toko kecil untuk berteduh, meneguk air karena haus dan lelah, realitas menampar pelan. "Bu, Desa Sumberrejo masih jauh nggak ya?" tanyaku pada penjaga toko. Orang itu hanya mengernyit. "Maaf, saya nggak tahu…" Kami saling pandang. Bingung. Gimana bisa? Sudah satu kecamatan, tapi tak satu pun tahu letak desa yang kami tuju? Entah benar-benar tak tahu, atau… memang tak ingin memberitahu. Saat duduk bersandar di depan toko, berusaha menenangkan napas dan menimbang langkah selanjutnya, ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari salah satu warga Dukuh Toplek yang sebelumnya sempat kami hubungi. "Mba, ini warga abis pada ngumpul. Kalau nanti mau sampe kabarin, biar bisa kami kumpulkan lagi warganya, ya."
Pesan itu membuatku menatap layar agak lama, lalu menunjukkannya pada teman-teman. Ada getar di dada yang tak bisa dijelaskan. Di tengah ragu, setidaknya satu hal pasti: di ujung jalan yang entah ini, ada sekelompok orang yang benar-benar menunggu kami. Orang-orang yang mempercayakan sebagian kisahnya untuk kami dengar, dan semoga, untuk kami suarakan. Kami tak bisa berhenti. Hari mulai redup, dan rasa penasaran membawa kami terus ke dalam perbukitan yang semakin sepi. Jalannya menanjak, turunan curam datang silih berganti. Pohon-pohon rapat mengapit kiri kanan jalan, dan sinyal ponsel mulai menghilang. Akhirnya, sore itu, kami tiba di Toplek—sebuah dukuh kecil yang tersembunyi di balik gunung. Di lapangan kecil yang dikelilingi rumah dan pepohonan, tampak warga tengah berkumpul, seperti tengah menyiapkan sesuatu. Saat melihat kami datang, mereka perlahan menghampiri—menyalami satu per satu, menyambut dengan senyum yang tulus, hangat, dan penuh arti. Rasanya seperti pulang ke rumah setelah lama merantau—bukan sebagai tamu, tapi sebagai bagian dari mereka yang telah lama dinanti. Setelah sejenak berbincang dan bersalaman dengan warga, seorang pemuda bernama Mas Amri menghampiri kami. Dengan suara ramah, ia menawarkan diri untuk mengantar kami ke tempat penginapan. Kami pun kembali menyalakan motor masing-masing, lalu mengikuti Mas Amri menyusuri jalan kecil tak jauh dari lapangan. Tak lama, kami tiba di sebuah rumah sederhana yang akan menjadi tempat tinggal kami selama beberapa hari ke depan. Tak berapa lama kemudian, Pak Rukun Tetangga (RT) datang menyusul, menyambut kami dengan senyum lebar dan ucapan selamat datang yang hangat. Ia mempersilakan kami meletakkan barang-barang, memberi kami waktu untuk beristirahat sejenak. Namun belum lama kami duduk dan menarik napas, Mas Amri bersama Pak RT kembali mengajak kami—kali ini menuju rumah salah satu warga lain yang terletak di dataran yang sedikit lebih tinggi. Sesampainya di sana, aroma masakan langsung menyeruak dari dalam rumah. Di ruang tamu, beberapa ibu sudah menyiapkan makanan—nasi hangat, ikan goreng, sambal, lalapan dan sayur rumahan yang menggugah selera. Kami dipersilakan duduk di lantai, dan suasana hening perlahan berubah menjadi hangat. Di tengah jamuan yang sederhana tapi penuh makna itu, kami merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar keramahan. Kami sedang disambut dengan sambutan yang diam-diam menggetarkan hati—dan membuat kami benar-benar siap untuk mendengar, melihat, dan menyuarakan apa yang mereka perjuangkan.
Usai makan, Mas Amri dan Pak RT kembali mengajak kami bergerak. Kami melintasi jalan pintas menuju lokasi tambang. Semak-semak masih tumbuh di sisi-sisi jalan, tapi tanahnya kini berpasir dan penuh bebatuan. Pasir coklat terang, seperti sisa dari pengerukan baru-baru ini, tersebar di sepanjang jalur yang kami lalui. Di tengah perjalanan, tubuhku sempat terpeleset dan jatuh ke pasir. Tawa spontan pecah dari rombongan. Tapi tawa itu cepat reda, berganti dengan keheningan yang berat begitu kami tiba di area tambang. Tanah di sana sudah terbuka lebar. Jalan menuju tambang sudah mulai dibentuk—jelas bukan oleh tangan manusia biasa, melainkan oleh dua alat berat yang berdiri mencolok di tengah lokasi. Dua ekskavator itu masih terparkir, menandai keberadaan proyek besar yang mulai merayap masuk. Tak jauh dari sana, jalur yang mepet dengan area bendungan pun sudah dipasangi timbunan pasir, membentuk akses baru yang tak pernah disepakati sebelumnya oleh warga.
Di titik itulah Mas Amri mulai bercerita. Katanya, semua ini terjadi begitu saja. Alat berat berupa ekskavator tiba-tiba masuk ke wilayah ini dan mulai mengeruk jalan, tanpa pemberitahuan, tanpa permisi. Padahal dalam musyawarah yang sebelumnya digelar bersama warga, pembangunan jalan menuju area tambang tidak pernah disepakati. Tidak ada persetujuan, tidak ada kesepahaman. Tapi kenyataannya, jalan sudah terbuka, ekskavator sudah bekerja. Setelah itu, pihak tambang mulai mengangkut material untuk membentuk jalan penghubung menuju titik tambang yang terletak di Dukuh Toplek dan Pendem. Aksi mereka tak lagi bisa dianggap diam-diam, dan warga mulai menghadang. Sayangnya, saat dipertanyakan, pihak perangkat desa justru beralasan bahwa semua ini adalah bagian dari program jalan desa—sebuah klaim yang terdengar mengambang, terutama bagi warga yang merasa dibohongi. Ketegangan pun mulai tumbuh. Penolakan tak lagi hanya berupa bisik-bisik atau gumaman di warung, melainkan berubah menjadi aksi nyata. Spanduk ditulis, suara mulai dinaikkan. Warga mulai bersatu dalam keberanian, menyuarakan penolakan terhadap tambang yang mengancam ruang hidup mereka. Mas Amri mulai menjelaskan lebih jauh alasan kenapa warga bersikukuh menolak tambang. Suaranya tenang, tapi ada getaran kuat dari kekhawatiran yang selama ini dipendam. Katanya, kehadiran tambang bukan hanya soal ekskavator dan jalan tanah—tapi soal suara yang tak akan pernah benar-benar hilang. "Kalau alat berat mulai kerja tiap hari, bayangkan bisingnya," ujar Mas Amri sambil menunjuk bukit-bukit yang masih berdiri anggun di kejauhan. Bagi warga yang tinggal di lereng atau bahkan dekat jalur aktivitas tambang, suara mesin akan jadi deru harian yang menggerus ketenangan. Belum lagi ancaman longsor. Kontur tanah di sekitar Toplek dan Pendem yang bergelombang, curam di banyak sisi, membuat mereka takut. Jika struktur tanah terganggu karena pengerukan, siapa yang bisa menjamin rumah-rumah tidak akan terkena dampaknya? Dan yang paling meresahkan—pembuangan limbah. Lokasi tambang cukup dekat dengan sumber air utama warga. Jika limbah dialirkan sembarangan atau terserap ke tanah, maka tak hanya sungai yang tercemar, tapi juga kehidupan mereka yang bergantung pada air bersih itu. Mas Amri menatap kami sejenak sebelum berkata pelan, "Kami ini bukan cuma mikirin sekarang. Tapi anak cucu nanti. Apa yang akan mereka warisi kalau semua ini rusak?" Kalimat itu tak kami jawab, hanya mengendap diam-diam dalam kepala. Perjalanan kami belum selesai. Masih bersama Mas Amri dan Pak RT, kami berjalan menyusuri jalur kecil menuju sumber mata air yang katanya menjadi urat nadi warga sekitar. Jalan setapak itu membelah hamparan sawah, dengan suara gemericik yang perlahan terdengar semakin jelas. Tak lama, dua aliran air muncul dari sela-sela batu—jernih, deras, mengalir tanpa henti.
Salah satu aliran bisa langsung diminum. Airnya bening dan segar, mengalir dari perut bumi tanpa sentuhan teknologi. Dulu, ada perusahaan besar yang tertarik membeli sumber air ini. Tapi warga memilih menolaknya. Tempat ini memang tampak sederhana, tapi begitu memukau—dikelilingi hamparan sawah dan pepohonan, dengan udara segar yang membawa ketenangan. Saat kami duduk di pinggiran aliran, seorang pemuda dari dukuh lain datang membawa galon kosong. Ia mengambil air dari sumber itu dengan santai, seperti sudah biasa melakukannya. Ternyata, di musim kemarau, saat dukuh lain kesulitan air bersih, warga dari berbagai penjuru datang ke sini. Air tetap mengalir deras, tak pernah berhenti. Sebuah anugerah yang dijaga bersama, diwariskan dari generasi ke generasi. Menjelang magrib, kami diajak pulang lewat jalur utama—bukan jalan pintas sempit yang sebelumnya kami lewati. Jalannya lebih lebar dan mulus, meski tetap sepi dan dikelilingi pepohonan. Dalam perjalanan itu, Mas Amri sempat menunjuk sebuah rumah di pinggir jalan, tak jauh dari bendungan dan area yang kini mulai dibuka untuk tambang. Rumah itu milik seorang ibu yang dulu nyaris digusur demi akses ke lokasi tambang, tapi warga bersikeras menolaknya. Di sekitar rumah itu, berdiri sebuah baliho besar berisi tuntutan warga terhadap aktivitas tambang yang dipaksakan masuk. Tak jauh dari situ, satu baliho lagi memuat daftar penandatangan penolakan tambang—dan yang paling mencolok, adalah nama petinggi desa terpampang jelas di sana. Sebuah tanda tangan yang seolah jadi simbol keberpihakan.
Namun, kenyataan berkata lain. Meski namanya tercantum sebagai pihak yang menolak, warga justru kesulitan untuk bertemu langsung dengannya. Si petinggi desa disebut-sebut menghilang dari pertemuan warga, tak pernah muncul dalam diskusi maupun mediasi. Ia dikabarkan mengalami depresi, menjadi alasan di balik ketidakhadirannya. Selain kedua baliho tersebut, berdiri pula batang bambu yang disusun sebagai penghalang guna mencegah alat berat masuk kembali dan keluarnya kedua ekskavator yang sudah berada di sana sebelum pihak tambang memenuhi tuntutan warga dan memberikan ganti rugi atas jalan yang sudah mereka buka secara sepihak. Tak lama, sekelompok ibu-ibu datang menghampiri Pak RT. Dari obrolan mereka, terdengar kabar bahwa ada upaya pemidanaan terhadap warga yang menolak tambang. Tapi yang membuat salut, mereka tidak terlihat takut sedikit pun. Nada bicaranya justru tegas, seperti takk peduli meski harus berhadapan dengan aparat sekalipun. Aku sempat nyeletuk, "Ah, itu mah biasanya cuma gertakan doang, Bu." Mereka tertawa kecil, lalu kembali serius mengobrol dengan Pak RT. Setelah itu, kami pamit pulang ditemani Pak RT. Sementara Mas Amri masih melanjutkan aktivitasnya di lapangan bersama warga lainnya. Langit sudah mulai benar-benar gelap. Kami pun langsung bersih-bersih, menata barang, mencuci muka, dan bersiap istirahat setelah perjalanan panjang hari itu. Tapi belum lama kami berselonjor, tiba-tiba ponselku berdering—Pak Purwantoro menelepon. Katanya, para laki-laki diminta ikut selamatan di bendungan dekat sawah. Tak lama berselang, ibu-ibu datang mengajak para perempuan ikut serta juga. Beberapa dari kami memutuskan ikut, sementara yang lain memilih tetap di rumah untuk mengerjakan tugas kuliah yang belum selesai, termasuk aku. Tak disangka, sepulang dari selamatan, kami justru dibawakan nasi liwet oleh Pak RT. Makanannya dihidangkan hangat-hangat, lengkap dengan lauk dan sayur sederhana, tapi rasanya seperti santapan paling nikmat malam itu. Kami makan bareng di ruang tengah—tertawa, ngobrol, dan menikmati kehangatan yang nggak bisa dibeli dari mana pun. Selesai makan, kami diajak lagi ke lapangan buat bakar-bakar jagung. Malam terasa begitu ringan—gelap yang biasanya menakutkan justru terasa akrab di tengah canda tawa warga dan wangi jagung bakar yang menyatu dengan angin pegunungan. Tapi kejutan malam itu belum selesai. Saat kami sudah kembali ke rumah dan hendak bersiap tidur, datang tiga orang. Salah satunya sosok pemuka agama—seorang kyai ditemani dua orang lain. Mereka duduk di ruang tengah, mengobrol dengan santai. Perbincangan melebar ke banyak hal hingga larut malam. Keesokan harinya, kami sudah bersiap sejak pagi dengan seragam Pakaian Dinas Harian (PDH) lengkap. Hari itu, kami berencana melakukan wawancara dengan para pemangku kepentingan dan warga setempat—berusaha merangkai cerita dari berbagai sudut. Tempat pertama yang kami tuju adalah kantor Kecamatan Donorojo. Kami berharap bisa bertemu langsung dengan camat, yang tempo hari sempat turun langsung ke area tambang. Namun sesampainya di sana, camat ternyata sedang tidak ada. Kata staf yang menyambut kami, beliau tengah menghadiri rapat di Kabupaten Jepara. Kami pun akhirnya berbincang dengan sekretaris kecamatan yang ada di tempat. Sayangnya, ia enggan direkam dengan alasan takut salah ucap, mengingat dirinya memang tidak turut hadir saat kejadian-kejadian krusial di lapangan. Kami menghargai keputusan itu, walau tetap menyimpan sedikit kecewa. Setelahnya, kami diarahkan untuk langsung menuju kantor desa, karena menurut informasi, petinggi desa sedang ada di sana. Tapi, saat kami tiba dan menanyakan keberadaan beliau, para pegawai bilang kalau petinggi desa juga sedang berada di Jepara. Lagi-lagi, kami tidak bisa bertemu sosok kunci yang seharusnya bisa memberikan penjelasan utama. Sebagai gantinya, kami berbincang dengan Kepala Bidang Perencanaan dan Tata Usaha beserta Bendahara. Obrolan kami berlangsung cukup lama, dan di sana mulai terlihat jelas—sudut pandang mereka berbeda jauh dari warga yang selama ini menolak tambang. Rasanya seperti sedang mendengarkan versi yang ingin menjaga citra dan menjauh dari tanggung jawab. Ya, you know-lah… tipe pejabat yang kalau bisa gak mau disalahin, tapi juga gak benar-benar berdiri buat warganya. Dalam perjalanan pulang dari kantor desa, kami kembali diajak makan di tempat yang sama seperti hari sebelumnya. Awalnya suasana tampak biasa saja, sampai akhirnya kami mulai melakukan wawancara dengan perwakilan ibu-ibu warga Dukuh Toplek. Jujur saja, ini adalah salah satu momen paling mengharukan selama kami berada di sana. Ketika ia mulai bercerita, saya bisa melihat matanya yang berkaca-kaca. Rasanya begitu menyayat. Mereka hanya ingin satu hal: permintaan sederhana agar desa mereka tetap aman, lestari, dan tidak diganggu oleh aktivitas tambang. Mereka tidak menuntut hal yang muluk—bukan soal uang, bukan pula soal fasilitas. Mereka hanya ingin tanah dan air yang mereka jaga selama ini tetap bisa diwariskan kepada anak cucu mereka. Hanya itu. Namun, mengapa begitu sulit bagi para pemangku kepentingan untuk mendengarkan? Mengapa mereka justru bersembunyi di balik dalih "izin tambang sudah keluar"? Bukankah seharusnya izin itu dikeluarkan atas dasar musyawarah dan kesepakatan bersama? Usai sesi wawancara, kami sempat berbincang dengan Pak Purwantoro dan Mas Amri. Kami menceritakan apa saja yang kami temui dan dengar selama berada di kecamatan dan kantor desa. Keduanya tampak terkejut, terutama ketika mendengar pernyataan yang disampaikan oleh kepala bidang perencanaan dan bendahara desa. Menurut mereka, "Kalau dengan kami, biasanya mereka tidak berani bicara seperti itu, Mbak, Mas." Dan yang paling membuat warga marah adalah salah satu pernyataan pemangku kepentingan yang menyarankan agar tambang ini dicoba terlebih dahulu, baru nanti dampaknya dievaluasi. Kalimat itu terdengar sangat ringan, seakan-akan tidak ada konsekuensi yang berarti. Padahal warga sudah menyaksikan sendiri dampak nyata dari tambang yang beroperasi di dukuh sebelah—dampak berupa longsor, air yang tercemar, suara bising, hingga konflik sosial. Namun, para pejabat ini tampaknya memilih untuk menutup mata. Entah karena ketidaktahuan, atau memang sudah ada kepentingan lain yang bermain. Mungkin, seperti yang sering diduga warga, persoalannya kembali lagi pada satu hal: keuntungan. Mereka hanya melihat untungnya saja, tanpa mau peduli pada apa yang akan hilang. Yang paling menyedihkan adalah bagaimana mereka menganggap semuanya bisa diselesaikan dengan evaluasi. Seolah-olah jika nanti terbukti merusak, tinggal dihentikan dan semuanya akan kembali seperti semula. Padahal tidak semua kerusakan bisa diperbaiki. Sumber air yang tercemar tidak bisa kembali jernih dalam sehari. Alam yang dirusak tidak akan sembuh hanya karena sebuah rapat evaluasi. Dan luka batin masyarakat tidak akan hilang hanya dengan kata maaf atau program kompensasi. Setelah wawancara dengan ibu-ibu warga Dukuh Toplek, kami berpindah tempat untuk melakukan wawancara dengan Pak Purwantoro. Lokasinya berada cukup dekat dengan area tambang yang menjadi sumber permasalahan utama. Wawancara berlangsung cukup intens, namun tetap hangat. Pak Purwantoro memberikan banyak penjelasan mengenai dinamika yang terjadi selama ini dari sudut pandang warga yang aktif mengawal isu. Usai wawancara, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak. Sementara itu, beberapa teman kami mengikuti kegiatan mural dan "jagong", sebuah istilah dalam bahasa Jawa yang berarti berkumpul dan ngobrol bersama. Jagong ini diikuti oleh warga, perwakilan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Lembaga Bantuan Hukum (LBH), dan berbagai pihak lainnya yang turut peduli terhadap kondisi lingkungan dan sosial di desa ini.
Malam harinya, rangkaian acara dilanjutkan dengan kegiatan istigasah bersama. Suasana menjadi khidmat, diwarnai doa dan harapan agar perjuangan yang sedang dijalani warga mendapatkan keberkahan dan kekuatan. Setelah itu, suasana berganti menjadi lebih semarak dengan berbagai pertunjukan yang dibawakan oleh warga dan tamu yang hadir. Ada yang membaca puisi, menyanyi, memainkan drama, hingga pantomim. Dari tim kami sendiri, satu orang turut membacakan puisi, sebagai bentuk dukungan moral dan emosional untuk warga. Kegiatan malam itu ditutup dengan hiburan berupa nyanyian dan tarian bersama. Jujur saja, momen tersebut terasa sangat berkesan. Di tengah tekanan dan ketegangan akibat konflik tambang yang mereka hadapi, kegiatan ini seperti menjadi ruang penyembuhan bersama. Sebuah jeda untuk menghela napas, untuk mengingat bahwa mereka tidak sendiri, dan bahwa semangat perjuangan harus terus dinyalakan bersama-sama.
Saya benar-benar bisa merasakan apa yang mungkin dirasakan oleh warga. Lelah, marah, sedih, tetapi juga berusaha tetap tegar dan tidak menyerah. Malam itu menjadi pengingat bahwa dalam setiap perjuangan, penting untuk tetap menjaga harapan dan kebersamaan. Keesokan harinya, kami melakukan wawancara terakhir dengan Mas Amri untuk melengkapi dokumentasi yang kami butuhkan. Setelah itu, kami mulai bersiap untuk kembali pulang. Namun, sebelum benar-benar pergi, kami menyempatkan diri untuk berpamitan kepada orang-orang yang selama beberapa hari terakhir ini sudah menjadi seperti keluarga sendiri. Sungguh, perpisahan ini terasa begitu berat. Ada rasa haru yang tidak bisa disembunyikan. Rasanya seperti meninggalkan rumah kedua. Meskipun kami datang sebagai tamu, tetapi sambutan hangat, cerita-cerita yang dibagikan, serta semangat yang mereka tularkan membuat kami merasa sangat dekat. Seolah kami turut menjadi bagian dari perjuangan mereka. Keesokan harinya, saya dihubungi oleh Pak Purwantoro. Ia mengabarkan bahwa ada rencana pemasangan bambu di area pertambangan. Tujuannya adalah sebagai bentuk penanggulangan longsor yang rawan terjadi akibat aktivitas penggalian tanah. Namun, rencana ini justru mendapat penolakan dari warga. Penolakan tersebut bukan tanpa alasan. Masyarakat masih berpegang teguh pada keputusan yang disampaikan oleh Petinggi Desa Sumberrejo saat aksi pada tanggal 10. Dalam pernyataannya, sang petinggi menegaskan bahwa segala bentuk aktivitas yang berkaitan dengan pertambangan tidak diperbolehkan. Bagi warga, pernyataan itu bukan sekadar formalitas, tetapi merupakan komitmen yang harus ditepati.
Sementara itu, saat pihak warga mencoba mengonfirmasi langsung kepada mandor pekerja tambang mengenai siapa yang menginisiasi atau menyetujui pemasangan bambu tersebut, justru terjadi saling lempar tanggung jawab. Tidak ada satu pun pihak yang berani mengambil keputusan atau mengakui perintah secara tegas. Hingga perjalanan kami usai dan langkah kami kembali menapak di Semarang, nyatanya perjuangan itu belum selesai. Isu tambang di Sumberrejo masih terus bergulir, menyisakan tanda tanya, ketidakpastian, dan luka yang belum sempat pulih. Namun satu hal yang pasti: suara-suara yang selama ini dibungkam tak lagi bisa diabaikan. Di tengah sunyi yang diciptakan oleh kekuasaan, warga memilih bersuara. Di tengah ketakutan, mereka memilih bertahan. Sebab perjuangan bukan tentang siapa yang paling kuat, tapi siapa yang paling setia menjaga harapan. Maka, hiduplah terus perjuangan—dari tanah yang direbut, dari suara yang dikecilkan, dari kehidupan yang terus menuntut keadilan. Sebab selama masih ada yang berani berkata "tidak", maka segalanya belum benar-benar berakhir.
Reporter: Zulfa Arya, Abigael Eudia, Billy Mahesa, Nurjannah, Nuzulul Magfiroh Penulis: Nuzulul Magfiroh Editor: Nurjannah