Ada satu kegiatan sore yang jadi kebiasaan, tepat pukul tiga sore akan ada dua burung kutilang hinggap di dahan pohon kersen depan rumah. Sudah banyak informasi yang aku curi dari dua burung kutilang itu . Rumah cat kuning di persimpangan jalan ribut perkara sepele sampai barang-barang terbang keluar, ada yang kehilangan sapu, terjadi kecelakaan di belokan kramat itu lagi yang buat rumor semakin kuat, remaja perempuan yang diajak pacaran temannya di gang rumahnya. Salah satunya memakai syal warna biru yang tak henti berkicau tentang apa yang sudah ia lihat sepanjang hari ini, sedang yang satu bertopi cokelat dengan hikmat mendengarkan dan sesekali menanggapi kicauan sang pasangan. Aku jadi menunggu jam tiga sore, duduk dekat jendela supaya mendengar dengan jelas tanpa harus menampakkan diri.

Aku penasaran kenapa mereka selalu nongkrong di sana dijam yang sama setiap hari, tetapi aku simpan rapat-rapat saja, tak perlu bertanya. Barangkali jika aku tiba-tiba mengajak ngobrol keduanya malah merasa tidak nyaman nanti aku bisa-bisa kehilangan bank informasi kan? maka aku tetap diam.

"Memang menurutmu apa itu kegagalan?" si syal biru hinggap di jendela kamarku tanpa aba-aba. Aku hampir jatuh dari kursi, jantung ikut berdebar kencang, mataku melebar, dengan kesadaran yang kembali perlahan aku menjawabnya, "Menurut aku diusia lima tahun, kegagalan itu kalau istana pasir yang sudah kubuat susah payah hilang dimakan ombak. Menurut aku diusia tujuh tahun, kegagalan itu kalau aku tidak bisa menggambar segitiga sama sisi. Menurut aku diusia sekarang, kegagalan itu banyak sekali bentuknya."

Si topi mendekat, "tetapi kegagalan bisa dicegah, nak."

"Ya, ini… aku sedang lakukan?" balasku tak yakin.

Keduanya saling bertatapan dan menganggukkan kepala.

"Dengan tidak keluar rumah?"

"Ya." Diam di rumah memperkecil aku mendapat masalah. Tak perlu mengeluarkan banyak energi untuk memahami manusia lain. Tak perlu menahan perasaan tak nyaman. Aku nyaman di rumah. "Aku selalu dengar masalah yang kalian bicarakan jam tiga sore. Ngomong-ngomong kenapa kalian selalu di sini?" sekalian saja aku tanyakan.

"Kami menemanimu."

Jawaban macam apa sih itu? Kenapa jadi tanggung jawab mereka? Aneh.

"Loh…? Aku?"

"Kau tampak menyedihkan ketika kami lewat di siang hari. Jadi begitulah."

Apa tadi katanya? Aku? Menyedihkan?